View Single Post
Old 05-25-2009, 09:15 AM   #1
djuwanto
NAC MEMBER
 
djuwanto's Avatar
 
Join Date: Oct 2007
Location: jakarta
Posts: 4,345
Default kesehatan & susu

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa
masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing,
kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi
tidak akan minum susu.
Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami
seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan
produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya,
penulis buku yang sangat laris: The Miracle of
Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa
Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu
sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia.
Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana
anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak
sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya,
bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu
itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir
ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang
diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas
usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut
langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa
mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan
"enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat.
Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk
pertumbuhan tulang.
Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk
membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah
terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli
usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang
melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus
membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia
sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia
sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000
manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika
kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus
mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian
melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud
dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya.
Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang
makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak
bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang
biasa makan makanan/minuman yang "jelek":
benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam,
dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet
gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang
diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya
sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata,
kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak
bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi
syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari
makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya,
pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh
sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit
timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak
berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang
menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang
kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging
sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu
cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.
Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian
ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa
dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita menyadari
berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya
mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari
seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan
infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh
makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging.
Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal.
Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau
akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak
makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan
cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal
30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai
70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting
agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara
sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan
bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya
setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap
usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah,
ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali!
Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan
tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu,
tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua
teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga
panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh
manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama
enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam
"lumbung enzim-induk" . Enzim-induk ini setiap hari
dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai
macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek
kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras
lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya
enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah
sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu.
Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan
segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua
makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama
terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh
besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami
karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya
sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah
teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan
yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah
kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka.
Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus.
Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim
yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian,
dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang
berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata
tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya
pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal
dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk
mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang
kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip
hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya
sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya
seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan
makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya
kualitas usus terjadi karena makanan "jelek"
itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu
sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan
"pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit
usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan
"pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat
dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu
dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak
melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu.
Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh
secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung.
Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus.
Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan
dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang
sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini.
Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan
bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang
itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak,
hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya
gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat
enzim-induk bertambah.

djuwanto is offline   Reply With Quote